Archive for February, 2013

18th February
2013
written by admin

I hope it’s not too late to say : Happy Valentine’s day everyone!!
Sudah lewat lima hari nih, masihkah terasa suasananya?
Well.. Di momen Valentine tahun ini aku dapat pelajaran berharga tentang kasih.
Something deeper than ever. But, it was hurt and hard in the beginning.
Tapi tenang… Ini bukan tentang putus cinta atau patah hati kok.

***

Tahun ini adalah kali pertama dalam hidupku mengalami hari Valentine’s day dengan status punya pasangan. (Yeiy! ^^)
Tentulah, harapanku untuk merayakan Valday tahun ini melayang tinggi.
Pingin dong dikasih bunga atau coklat atau candle light dinner atau romantic words atau apapun deh something special yang mengejutkan dari dia.
Apalagi, momen Valday memang biasa dimanfaatkan orang2 muda untuk mengekspresikan kasih sayangnya ke pasangan.
Belum lagi lihat profile picture BBM teman2 yang majang hadiah2 dari pasangannya.. Jadi membayangkan, aku dikasih apa ya??

Nah, dari jauh2 hari, kita berdua sudah tahu kalau hari Kamis, bertepatan dengan Valday, ada acara appreciation night untuk volunteers di gereja tercinta. Boleh sih nggak datang, tapi kita memutuskan untuk “buah sulung” Valday tahun ini dengan tetap datang ke gereja.. 😀
So, sudah pasti angan2 untuk candle light dinner dicoret dari Valday’s wish list.
Sebenarnya tetep bisa sih diubah jadi candle light supper, tapi udah kelewat malam buatku yang ditungguin ortu kalau belum pulang rumah.
Jadilah wish list-ku berkisar pada harapan bakal dikasih sesuatu untuk tetap merayakan Valday pertama ini.
Tapi ternyata..  Sampai pulang dari gerejapun nggak dikasih apa2.
Hanya ucapan Happy Valentine’s day aja lewat BBM di pagi hari.
Awalnya sih q masih merasa biasa aja. But then it was getting even worst waktu dia bilang harus ke RS karena ada kabar duka dari seorang teman dan dia nggak ngasih kabar yang jelas sampai larut malam.
Sedangkan aku terus nunggu kabar di rumah.

Waktu q BBM dan hanya dijawab singkat2 karena masih sibuk membantu, langsung perasaan2 negatif muncul.
Kok di hari Valentine nggak ada yang spesial, bahkan terasa langsung dicuekin.
Tapi sebenarnya hati kecilku tahu, he loves me everyday. It does not need a Valentine’s day to express his love. He expresses it everytime we meet.
Lagipula, pada saat itu memang orang lain lebih membutuhkannya. Bayangkan, sahabatku lagi berduka, q pasti juga akan bela2in untuk jadi orang yang ada di sampingnya.
Tapi keegoisan di dalam diriku juga berusaha berjuang memenangkan pendapatnya. Walaupun dia minta maaf dan mengajak untuk merayakan Valentines’s day di lain hari, q tetap merasa kecewa.
Hari itu q tidur dalam kekecewaan. Keegoisanpun menang.

***

Sehari sesudah Valentine’s day. Rasa sedih dan kecewa  masih jadi tema hari ini.
Seharian tulang jadi lunglai semua.
Malas berbuat apapun kecuali tiduran.
Yah, dalam bahasa ter-nggak-kerennya sih : galau.
Walaupun dia sudah minta maaf, tetap rasanya nggak terima.
Malamnya, kokoku bilang: “Kamu egois lo.. Dia kan bantu orang masak kamu malah marah gara2 ga dapet kado Valentine..”
Papa juga bilang: “Lho jaman sekarang jarang ada orang mau bantu orang lain kayak gitu. Bukan keluarga lho padahal. Berarti memang dia orangnya kasih.”
Akhirnya, malam hari q sadar juga kalau aku sudah begitu egois.
Memikirkan diri sendiri padahal ada yang lebih membutuhkan. Bukan hanya itu, aku seolah-olah membuat posisinya jadi terjepit juga. Membantu orang bukannya dihargai pacar sendiri malah dianggap mengecewakan.
Hmm..

***

Saturday. 2 days after Valday. Q pingin banget makan dimsum.
Setelah mengutarakan isi hati ke dia, janjian makan dimsum siang ini.
Q bakal dijemput siang ini.
Jadilah q siap2, happy banget, sampai kokoku tanya: Kamu ada apa hari ini kok senyum2 happy? Kemarin padahal sedih2..
Selesai siap2, ternyata jam penjemputan diundur karena masih sibuk mengurus sesuatu hal.
Sedangkan, q juga sebetulnya nggak punya banyak waktu karena harus persiapan untuk pelayanan ke panti sosial bersama CG-ku.
Akhirnya, bisa ditebak, rencana makan siang bareng batal deh..
Yah, kecewa lagi, merasa tidak jadi prioritas, tapi lebih bisa menerima daripada kemarin2..

Selesai pelayanan di panti sosial, dia datang menjemput. Padahal udah q bilang nggak usah menjemput biar dia bisa istirahat karena sibuk banget hari2 ini. Dia pun sempat salah paham, tapi tetap datang menjemput ^^
Dari panti jompo kita pergi melayat.
Sepulang melayat, aku pun mengutarakan isi hatiku yang campur aduk antara kecewa, sedih, tapi juga tahu kebenaran bahwa seharusnya aku bangga dia bisa begitu peduli sama orang lain yang memang lagi sangat membutuhkan. Akhirnya, pergolakan batin selama 3 hari ini tertumpah ruah dan selesai.. 😀

***

Begitulah kisah Valday-ku di tahun ini..
So
, Valday tahun ini q belajar sebagai pasangan, kita perlu untuk:
1. Mengalah. Melalui pengalamanku ini, orang lain lebih membutuhkannya. Apalagi teman yang dibantu itu sama2 pria, masak q perlu cemburu. Haha.. Lagian, hari2 sebelumnya banyak dihabiskan bersamaku.. Hanya saja, kok ya pas momennya itu Valentine, pas nggak dikasih apa2 lagi. Haha..
2. Menjadi pasangan yang tepat. Aku harusnya mendukungnya sejak awal supaya dia bisa kerja n bantu temannya tanpa memikirkanku dan merasa terbeban gara2 aku ngambek. Yah, nggak apa2 deh namanya juga sama2 baru pertama menjalin hubungan, perlu banyak belajar.. ^^
3. Be mature. Melalui pengaman ini, ya walaupun tetap menginginkan Valday dirayakan, tapi nggak sebegitu marahnya juga sih semestinya. Tapi aku yakin nggak ada yang kebetulan, nggak ada yang terjadi tanpa tujuan. Mungkin Tuhan ingin supaya q selalu ingat tiap kali merayakan Valday, bahwa kasih sejati itu bukan kasih yang egois, tapi kasih yang timbul dari hati yang murni dan mengerti kebutuhan orang lain.

(Tapi Valday tahun depan q tetap mau coklat, bunga, candle light dinner, sama romantic words lo ko!! huahahaha.. ea.. ea.. eaa.. :p)

By the way, sharing sedikit.
On Sunday, I was going to AOG special service, Valentine’s Day with Parents, with my mom. And that day, I asked my mom to respond the altar call to receive Jesus, and we did it!!! Something I had never imagine before.
Keep praying. Keep trying. Keep hoping. Keep believing.
I believe in miracle. Nothing’s impossible with GOD!
Salvation in the family! As for me and my house, we will serve the Lord!


Instagram