Archive for March, 2013

26th March
2013
written by admin

Sahabat…

Tanggal 1 Januari 2000, pk 05.00 pagi, saya berada di suatu daerah gurun pasir yang luas, tandus, kering-kerontang. Udara terasa berat, panas terik sangat menyegat.
Saya melihat banyak binatang aneh dan menjijikkan yang tak pernah saya temui sebelumnya. Saya berjalan setapak demi setapak melewati gurun itu hingga sampai pada suatu tempat yang menyeramkan!

Perasaan aneh melingkupi saya, rasa sakit menjalar di tulang-tulang saya. Suasana sangat sunyi mencekam. Tak ada sedikitpun angin berhembus. Mendung kelam menyelimuti daerah itu. Saya tak bisa menggambarkannya lebih baik lagi dengan kata-kata….. karena hanya kengerian yang ada di sana…!

Sebuah pintu gerbang menjulang di hadapan saya. Dengan gelisah namun ingin tahu saya mencoba membuka gerbang itu.  Tidak cukup sulit untuk dibuka. Saya masuk dan tersentak, ternyata masih ada sebuah pintu gerbang lagi,…menjulang dan mengerikan dengan palang bertuliskan VALLEY of TORTURE!! (Lembah Penyiksaan)

Terbersit keraguan di hati saya, haruskah saya melanjutkan ‘perjalanan’ ini atau tidak, tetapi ada sesuatu yang kuat mendorong saya untuk meneruskannya. Degup jantung saya begitu keras seakan saya dapat mendengarnya saat saya membuka gerbang berikutnya dan…
Oh Tuhan!! Saya tidak percaya… saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat… tetapi itulah kenyatannya!

Di hadapan saya terbentang suatu lorong yang diliputi oleh kegelapan.
Saya berdiri di pinggir pintu gerbang dan saya tidak bisa memperkirakan seberapa luas dan panjang lorong itu. Saya melihat asap samar-samar membumbung pada ujungnya. Saya merasa itu adalah lautan api yang sangat dahsyat!

Di sepanjang lorong yang gelap itu saya melihat banyak orang disiksa oleh makhluk-makhluk berpakaian hitam dan bertanduk kepalanya.
Saya melihat makhluk-makhluk itu sangat bernafsu menyiksa setiap orang yang ada di sana sebelum mereka semua dimasukkan dalam lautan api di ujung lorong. Saya mendengar tangisan yang memilukan serta erangan kesakitan bercampur dengan suara tawa yang menjijikkan di tempat yang sangat kotor tersebut.

Di tepi lorong, seorang wanita muda dengan tangan terikat pada sebuah kayu, dikelilingi banyak makhluk bertanduk yang mengejek serta menertawakannya. Saya memandang wajahnya yang sudah putih pucat itu diliputi ketakutan yang amat sangat. Di depan matanya  mengayun-ayun sebuah senjata berbentuk aneh yang tak pernah kujumpai sebelumnya.
Saya tak tahu apa itu, tapi bentuknya semacam garpu penggaruk dengan mata pisau yang amat tajam. Senjata itu dibawa oleh salah satu iblis bertanduk yang sedang mengerubuti wanita itu.
Saya mendengar iblis itu mengancam wanita malang yang ketakutan itu, “Ayo berdusta!!! Ayo berdusta!!!”
Saya lihat wanita muda itu makin ketakutan. Dia sudah sepenuhnya jatuh dalam kuasa para iblis bertanduk itu sehingga ia mau menuruti kemauan mereka. Wanita itu menjawab, “Ya! Ya! Aku berdusta! Aku berdusta!”

Para iblis itu tertawa terbahak-bahak. Kelihatannya mereka puas dengan jawaban wanita muda itu. Saya menyangka setelah wanita itu menuruti apa yang mereka mau, ia akan dilepaskan.
Tapi apa yang terjadi kemudian mengagetkan saya! Iblis itu malah menyorongkan benda mengerikan itu ke dalam wajahnya! Darah segar menyembur keluar! Saya merasa ngeri! Wajahnya tak berbentuk lagi dan teriakan kesakitannya begitu menyayat hati!

“Stop! Hentikaaan!!”, saya berteriak.
Tapi aneh, mereka tidak mendengar suara saya, bahkan tampaknya kehadiran saya sama sekali tak terlihat oleh mereka.

Saya merasa jijik dan muak melihat semuanya itu, tetapi ternyata masih banyak pemandangan lain yang lebih mengejutkan menanti saya!

Berikutnya, saya lihat seorang laki-laki dengan rambut hangus, wajahnya tinggal tengkorak yang membusuk. Dari rongga-rongga tengkoraknya keluar ulat-ulat yang tak dapat terbakar api.
Laki-laki tersebut diusung dari ujung lorong yang dekat dengan api, saya merasa mereka telah lama menyiksa orang itu. Tubuhnya hangus dan dagingnya meleleh karena diletakkan dekat api yang tak terhingga panasnya!

Iblis-iblis pengusungnya tertawa mengejek dia. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah dengan keadaannya. Ia sekarat tapi tak bisa mati.
Ia kelihatan seperti sedang merasakan kesakitan yang luar biasa.
Mulutnya megap-megap seakan memohon belas kasihan.
Seorang dari iblis-iblis itu berteriak, “Ayo mastrubasi!! Ayo masturbasi!!!”
Pria itu menjawab dengan bergetar, “Ya, aku masturbasi… aku masturbasi.. AhhhHH!” Pria itu menjerit, dari sekujur tubuhnya keluar banyak ulat…. sangat banyak!! Saya merasa jijik melihatnya, apalagi mendengar jeritannya.. begitu ngeri!!

Masih banyak lagi teriakan dan perintah-perintah yang saya dengar.
“Ayo minum! Ayo mabuk! Ayo judi! Ayo menipu!”, dan para iblis itu tertawa-tawa menikmati erangan serta tangisan seolah-olah mereka sedang mendengar alunan musik yang indah. Saya tidak berani berjalan masuk lebih dalam lagi, saya hanya melihat sejauh mata memandang dan saya yakin masih banyak lagi jenis-jenis penyiksaan yang dilakukan di lorong yang lebih pas disebut barak penyiksaan itu.

Saya menemukan suatu pemandangan yang sangat mengagetkan, banyak orang saleh dan beragama di sana!!! Saya tak percaya tapi tak berkuasa untuk menyangkal apa yang saya lihat. Saya mendengat teriakan mereka saat disiksa. Mereka berteriak menyebut nama Tuhan, “Tuhan tolong aku!!”, “Tuhan bukankah aku selalu bersama dengan Engkau?!”, “Engkau mengajar di kota-kota kami!”, “Aku melayani Engkau Tuhan!!”

Mereka berteriak memohon-mohon pada Tuhan tetapi kesempatan itu sudah tertutup bagi mereka, sampai akhirnya saya mendengar mereka menghujat Tuhan! Hancur hati saya melihat hal ini!

Setelah itu saya benar-benar berada di puncak kengerian yang amat sangat. Saya tak kuat lagi melanjutkan ‘perjalanan’ ini, dan jika dilanjutkan kemungkinan besar saya akan benar-benar mati!
“Tuhan..”, teriakku “Tolong saya untuk keluar dari sini! Tolong Tuhan!!.. Seketika itu juga saya tersadar!

Semua yang terjadi tadi adalah sebuah vision, sebuah penglihatan…
Penglihatan yang amat mengerikan… penglihatan tentang neraka!!!

Saya senang mendapati diri saya berada di rumah, walau setelah itu saya mengalami sakit berhari-hari. Seluruh tulang dan persendian saya ngilu, maag saya kumat, dan shock terus membayangi saya berhari-hari.

Saya berdoa kepada Tuhan dan bertanya, apa arti semua itu, apa yang Ia inginkan dengan pengalaman saya itu.
Tuhan memberi saya pengertian dan beban yang amat mendalam bagi orang-orang di sekitar saya. Tuhan ingin saya memberitahukan apa yang telah dan akan terjadi pada semua orang.
Banyak dari mereka sedang bersenang-senang, makan minum, pesta pora, seks bebas, narkoba, dan banyak kesenangan lain yang seolah mereka bisa nikmati selamanya. Mereka tidak sadar bahwa neraka dan iblis-iblis bertanduk sedang menanti mereka. Mereka adalah mangsa berikutnya!

Saya tahu, Tuhan Yesus sangat mengasihimu.
‘Penglihatan’ yang telah ditunjukkanNya pada saya membuktikan bahwa Ia masih memberimu kesempatan untuk bertobat.

Sahabatku, saya harus menulis surat ini padamu untuk memperingatkanmu. Saya tidak mau engkau mengalami hal yang sama dengan mereka yang ada di sana. Sungguh, saya mengasihimu dan harapan saya adalah supaya engkau merenungkan semua dan benar-benar bertobat.
Terimalah Tuhan Yesus sebagai Juruselamatmu secara pribadi, mulailah hidup yang baru dan jangan keluar dari jalan yang telah Tuhan Yesus tetapkan.

Saya menyelipkan sebuah undangan khusus untukmu, dan saya harap engkau mau datang dalam acara ini, kita akan bertemu di sana.
Sahabat, saya akhiri surat ini, saya selalu berdoa untukmu dan saya nantikan kehadiranmu.
Tuhan memberkatimu!

Sahabatmu, Philip Mantofa.

Undangan untukmu...

Teman, kalau kalian butuh info lebih lanjut, langsung aja tinggalkan comment ya..

I will reply soon! 🙂  God bless..

15th March
2013
written by admin

Suatu siang di ibukota, di sebuah kantor redaksi majalah rohani berskala nasional, suasana kantor sedang lengang. Beberapa meja kerja terlihat kosong ditinggal sang empunya untuk istirahat makan siang.
Beberapa orang lagi terlihat menikmati bekal makan siang yang dibawa dari rumah sambil mengobrol santai dengan rekan di meja sebelah.
Namun, sangat berbeda dengan meja di ujung ruangan.
Suara ketikan keyboard dan ‘klik’ mouse beberapa kali terdengar.
Rose, sang editor berusia 26 tahun, masih berada di depan layar komputer.
Sudah 2 minggu ini Rose cuti kerja pasca melahirkan anak pertamanya.
Tidak heran, pekerjaannya menumpuk begitu ia kembali bekerja.
Dia sedang sibuk membaca dan memeriksa beberapa artikel yang akan naik cetak.
Tiba-tiba raut mukanya menjadi serius ketika membaca sebuah surat kesaksian dari seorang pembaca.

“Namaku Jim, usia 21 tahun. Aku tergabung dalam tim redaksi warta di gereja. Sekalipun seorang penulis warta gereja, aku tidak serohani tulisan-tulisanku. Aku tahu tentang Tuhan, dan kurasa aku mengenalNya. Tapi berdasarkan pengalamanku, Dia tidak semenarik sebagaimana aku menulis tentangNya.
Tentu saja, itulah pikiranku sebelum aku menyaksikan hal yang menakjubkan ini.

Siang itu, aku sedang minum kopi di lantai atas kafe kecil di seberang rumah sakit bersalin.  Waktu itu aku sedang mencari inspirasi untuk sebuah topik warta gerejaku. Topik itu tentang penyertaan Tuhan yang sempurna.
Tentu saja aku harus berpikir keras karena pengalaman tak mengajarkanku apa-apa tentang topik ini. Aku berupaya membuat cerita fiksi sebagai ilustrasi, tetapi kemudian Dia mengarahkan perhatianku pada seorang perempuan di seberang sana.

Perempuan itu sepertinya baru beberapa hari yang lalu melahirkan.
Perutnya masih terlihat buncit, dengan cara jalan yang masih khas ibu hamil.
Ia berjalan dengan seorang pria, yang pastinya itu adalah suaminya.
Pria itu menggendong seorang bayi mungil yang dilindungi kain selendang warna biru. Mereka tidak berdua, tetapi juga disertai oleh seorang perempuan lanjut usia, sepertinya nenek dari bayi itu. Nenek itu membawa tas perlengkapan bayi yang cukup besar.
Mereka terlihat akan menyeberang jalan.

Ketika baru saja maju beberapa langkah, tiba-tiba tali tas perlengkapan bayi yang dibawa oleh nenek itu putus sehingga tas jatuh tertinggal di jalan.
Sang nenek yang menyadari hal itu segera membalikkan badan untuk mengambil tas. Perempuan itu dan suaminya juga ikut membalikkan badan untuk melihat nenek itu dan tas yang dibawanya.
Ketika mereka semua sedang  membalikkan badan, tidak lebih dari 3 detik, tiba-tiba sebuah mobil pick-up melaju kencang di balik punggung mereka. Sangat menegangkan bagiku yang sedang memperhatikan mereka!
Setelah mengambil tas, perempuan itu dan suaminya, juga nenek itu melanjutkan menyeberang jalan dengan tenang.

Aku tercengang. Mereka tidak tahu apa yang baru saja mereka alami.
Mereka semua hampir saja tertabrak. Ya, mereka semua, perempuan itu dan suaminya, nenek itu, dan juga bayi yang mungkin baru beberapa hari lahir ke dunia.
Jika saja tali tas yang dibawa oleh nenek itu tidak putus, mereka akan terus melangkah dan … Ah! Tentu saja aku tidak akan menulis kesaksian ini.

Ya, siapapun mereka, aku tidak mengenalnya.
Tapi, aku mengenal Dia yang meluputkan mereka dari tabrakan itu.
Sungguh menakjubkan!

Terima kasih,
Jim.”

Rose terdiam. Air matanya tumpah.
Ia baru saja menyadari bahwa ‘mereka’ yang diceritakan oleh Jim ialah dirinya dan keluarganya.
Ya, 1 minggu setelah melahirkan, Rose dijemput di rumah sakit oleh suami dan ibu mertuanya.  Karena parkir rumah sakit penuh, suami Rose memarkir mobil di seberang jalan, di depan kafe kecil itu.
Ibu mertuanya yang ketika itu membawa tas perlengkapan bayi, dan talinya putus ketika mereka menyeberang jalan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa ada mobil pick-up yang melaju kencang, dan mereka terluput dari tabrakan maut.

*Terinspirasi dari cerita yang pernah dibaca di Chicken Soup 😀

13th March
2013
written by admin

Hi everyone!
Pernahkah kamu mengalami perbedaan dengan orang-orang di dalam gereja?
Misalnya, beda pendapat, beda prinsip, beda pola pikir, beda pemikiran, atau perbedaan-perbedaan lainnya?
Hmm, pasti semua orang pasti pernah mengalami perbedaan. Bahkan orang yang paling penurut pun pasti pernah mengalami sekali/dua kali perbedaan pendapat dengan orang lain.

Lalu, pernahkah juga kamu mengalami gesekan (atau dalam bahasa gaulnya: nggak enakan) sama mereka?
Misalnya, merasa tersinggung karena sikap/perkataan seseorang, berdebat pendapat dengan keras, atau merasa ditekan, dll?
Yang satu ini kayaknya juga pasti pernah deh..
Sebagai manusia normal yang punya perasaan dan ego, kita semua pasti mengalami gesekan. Apalagi di dalam suatu komunitas ada berbagai macam orang dengan beragam latar belakang kepribadian.

Nah, sekarang, pernahkah kamu mengalami kekecewaan terhadap mereka?
Merasa sakit hati, merasa dihakimi, lalu  kehilangan kepercayaan, atau bahkan kehilangan kasih terhadap mereka?

Well..
Permasalahan seperti yang q sebut di atas sepertinya bukan hal asing lagi terjadi di antara banyak orang yang bergereja.
Sebenarnya, permasalahan2 seperti itu tidak hanya terjadi di gereja, tetapi lebih sering lagi terjadi di luar gereja. Nah, masalahnya, di gereja kita diajarkan tentang Tuhan dan ajaranNya. Seharusnya, orang-orang yang sudah lama bertumbuh di dalamnya adalah orang-orang yang sudah bertobat sehingga sudah baik cara hidupnya dan mengerti bagaimana berbuat kasih terhadap sesama. Pandangan ini yang kemudian membuat orang lebih mudah merasa kecewa ketika melihat hal negatif dilakukan oleh orang dalam gereja.

So, let’s think deeper..
Daripada menganggap perbedaan dan gesekan sebagai sesuatu yang menghalangi pertumbuhan, mengapa tidak menganggapnya sebagai proses pemurnian dan pendewasaan?
Perbedaan dan gesekan adalah hal wajar agar kita menjadi pribadi yang lebih dewasa. Lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan, lebih dewasa dalam menjaga hati, dan juga lebih dewasa di dalam kasih.
Untuk menjadi orang yang kuat dalam karakter, kita perlu dibentuk melalui berbagai macam proses.

Manusia tetaplah manusia, akan selalu punya kekurangan dan melakukan kesalahan. Jangan berharap berlebihan pada manusia.
Fokus kita jangan salah. Ketika beribadah di gereja dan terlibat dalam pelayanan, ingatlah bahwa kita sedang melakukannya untukNya dan karenaNya.

Lalu, bagaimana menyikapi kekecewaan?
Pernah merasa kecewa itu wajar, tapi tinggal di dalam kekecewaan itu merugikan diri sendiri. Ingatlah, sekalipun mengalami kekecewaan, kita bukan produk dari rasa pahit.  Teruslah bersikap baik dan tulus hati.

Hari ini, jangan jadi orang yang pahit.
Mengasihilah lebih lagi.
Kasih meminimalkan penyesalan.
Orang yang tidak pernah rugi adalah orang yang selalu mengasihi.
Bertahanlah dalam proses dan jadilah pemenang! 🙂

5th March
2013
written by admin

Penyertaan Tuhan di kehidupan kita SEMPURNA!
Kita mungkin tidak selalu menyadarinya, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa penyertaanNya selalu ada -dan sempurna- bahkan di keadaan yang terlihat buruk sekalipun.
Banyak sekali q lihat terjadi, kebetulan2 yang sederhana, lucu, tapi membuktikan bahwa penyertaanNya sempurna dan seringkali Dia melakukannya diam2, tidak perlu untuk selalu kita ketahui.

Kadang, q hanya menjadi saksi yang melihat penyertaan Tuhan atas orang lain.
Kadang, q tidak menyadari, tapi orang lain yang melihat penyertaanNya terjadi di hidupku.
Kadang juga, Dia tidak butuh satu pun saksi mata yang menyaksikan penyertaanNya. Cukup Dia saja yang tahu.
Dan ini terjadi setiap hari, setiap waktu.

Wow! My God is amazing!
Baik terlihat atau tidak terlihat, baik disadari atau tidak disadari, pernyertaan Bapa selalu sempurna untuk setiap anak2Nya.

Tuhan Yesus menyertaimu! 🙂

2nd March
2013
written by admin

Hi everyone..  Time flies so fast, we are already in March.
Well, this first post in March is copied from newsletter written by Max Lucado.
It blessed me much and remind me once again to live in holiness. Here it is..

John the Baptist would never get hired today. No church would touch him. He was a public relations disaster.
Mark 1:6 says he “wore clothes of camel’s hair and ate locusts and wild honey.”

His message was as rough as his dress. A no-nonsense, bare-fisted challenge to repent because God was on His way.  No, John’s style wasn’t smooth. He made few friends and lots of enemies, but what do you know?  He made hundreds of converts. How do you explain it?  It certainly wasn’t his charisma, nor his money or position—for he had neither.  Then what did he have?  One word:  Holiness.
Holiness seeks to be like God. You want to make a difference in your world? Live a holy life.  Be faithful to your spouse. Pay your bills. Be the employee who does the work and doesn’t complain. Don’t speak one message and live another!  Just be God in your world.
“…as He who called you is holy, you also be holy in all your conduct, because it is written, “Be holy, for I am holy.” (I Peter 1:15-16)
Be holy, be double blessed! 🙂
Instagram