Inspirational Story

15th March
2013
written by admin

Suatu siang di ibukota, di sebuah kantor redaksi majalah rohani berskala nasional, suasana kantor sedang lengang. Beberapa meja kerja terlihat kosong ditinggal sang empunya untuk istirahat makan siang.
Beberapa orang lagi terlihat menikmati bekal makan siang yang dibawa dari rumah sambil mengobrol santai dengan rekan di meja sebelah.
Namun, sangat berbeda dengan meja di ujung ruangan.
Suara ketikan keyboard dan ‘klik’ mouse beberapa kali terdengar.
Rose, sang editor berusia 26 tahun, masih berada di depan layar komputer.
Sudah 2 minggu ini Rose cuti kerja pasca melahirkan anak pertamanya.
Tidak heran, pekerjaannya menumpuk begitu ia kembali bekerja.
Dia sedang sibuk membaca dan memeriksa beberapa artikel yang akan naik cetak.
Tiba-tiba raut mukanya menjadi serius ketika membaca sebuah surat kesaksian dari seorang pembaca.

“Namaku Jim, usia 21 tahun. Aku tergabung dalam tim redaksi warta di gereja. Sekalipun seorang penulis warta gereja, aku tidak serohani tulisan-tulisanku. Aku tahu tentang Tuhan, dan kurasa aku mengenalNya. Tapi berdasarkan pengalamanku, Dia tidak semenarik sebagaimana aku menulis tentangNya.
Tentu saja, itulah pikiranku sebelum aku menyaksikan hal yang menakjubkan ini.

Siang itu, aku sedang minum kopi di lantai atas kafe kecil di seberang rumah sakit bersalin.  Waktu itu aku sedang mencari inspirasi untuk sebuah topik warta gerejaku. Topik itu tentang penyertaan Tuhan yang sempurna.
Tentu saja aku harus berpikir keras karena pengalaman tak mengajarkanku apa-apa tentang topik ini. Aku berupaya membuat cerita fiksi sebagai ilustrasi, tetapi kemudian Dia mengarahkan perhatianku pada seorang perempuan di seberang sana.

Perempuan itu sepertinya baru beberapa hari yang lalu melahirkan.
Perutnya masih terlihat buncit, dengan cara jalan yang masih khas ibu hamil.
Ia berjalan dengan seorang pria, yang pastinya itu adalah suaminya.
Pria itu menggendong seorang bayi mungil yang dilindungi kain selendang warna biru. Mereka tidak berdua, tetapi juga disertai oleh seorang perempuan lanjut usia, sepertinya nenek dari bayi itu. Nenek itu membawa tas perlengkapan bayi yang cukup besar.
Mereka terlihat akan menyeberang jalan.

Ketika baru saja maju beberapa langkah, tiba-tiba tali tas perlengkapan bayi yang dibawa oleh nenek itu putus sehingga tas jatuh tertinggal di jalan.
Sang nenek yang menyadari hal itu segera membalikkan badan untuk mengambil tas. Perempuan itu dan suaminya juga ikut membalikkan badan untuk melihat nenek itu dan tas yang dibawanya.
Ketika mereka semua sedang  membalikkan badan, tidak lebih dari 3 detik, tiba-tiba sebuah mobil pick-up melaju kencang di balik punggung mereka. Sangat menegangkan bagiku yang sedang memperhatikan mereka!
Setelah mengambil tas, perempuan itu dan suaminya, juga nenek itu melanjutkan menyeberang jalan dengan tenang.

Aku tercengang. Mereka tidak tahu apa yang baru saja mereka alami.
Mereka semua hampir saja tertabrak. Ya, mereka semua, perempuan itu dan suaminya, nenek itu, dan juga bayi yang mungkin baru beberapa hari lahir ke dunia.
Jika saja tali tas yang dibawa oleh nenek itu tidak putus, mereka akan terus melangkah dan … Ah! Tentu saja aku tidak akan menulis kesaksian ini.

Ya, siapapun mereka, aku tidak mengenalnya.
Tapi, aku mengenal Dia yang meluputkan mereka dari tabrakan itu.
Sungguh menakjubkan!

Terima kasih,
Jim.”

Rose terdiam. Air matanya tumpah.
Ia baru saja menyadari bahwa ‘mereka’ yang diceritakan oleh Jim ialah dirinya dan keluarganya.
Ya, 1 minggu setelah melahirkan, Rose dijemput di rumah sakit oleh suami dan ibu mertuanya.  Karena parkir rumah sakit penuh, suami Rose memarkir mobil di seberang jalan, di depan kafe kecil itu.
Ibu mertuanya yang ketika itu membawa tas perlengkapan bayi, dan talinya putus ketika mereka menyeberang jalan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa ada mobil pick-up yang melaju kencang, dan mereka terluput dari tabrakan maut.

*Terinspirasi dari cerita yang pernah dibaca di Chicken Soup 😀

14th May
2011
written by admin

Setelah berjuang dan bergumul selama 2 tahun, akhirnya Tom berhasil mendapatkan hati Anne.
Melewati masa pacaran kudus selama 3 tahun, mereka akhirnya memasuki lembar baru sebagai satu tim yang solid dalam sebuah pernikahan.

Tom seorang yang berkomitmen. Lulus dari perguruan tinggi, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan besar dengan jabatan yang cukup tinggi. Cerdas, tampan, dan punya masa depan cemerlang.
Sejak di perguruan tinggi, banyak teman lawan jenis yang menunjukkan ketertarikan padanya.
Dia bisa saja memanfaatkan kesempatan untuk bermain-main dengan para perempuan yang tertarik padanya, tapi ia sudah berkomitmen untuk menjaga hatinya yang akan diberikannya untuk perempuan yang diberikan Tuhan pada waktu yang tepat.

Sedangkan Anne, seorang perempuan muda yang mencintai Tuhan, cerdas, dan disukai banyak orang. Tidak sedikit laki-laki yang mendekatinya, mulai dari yang berumur lebih muda hingga yang jauh lebih tua.
Sama seperti Tom, Anne ingin memberikan hatinya secara utuh, tanpa terpecah-pecah, pada orang yang memegang prinsip yang sama, yang diberikan Tuhan pada waktu yang tepat.

Memasuki usia pernikahan ke-10, kehidupan mereka mengalami ujian berat.
Tom tertarik pada seorang perempuan lain. Ia berusaha menepis ketertarikan itu, tapi semakin hari perasaannya semakin nyata. Ia merasa bersalah dengan perasaan itu, tapi tak bisa berbuat apa2.

Suatu sore, Tom membuka laci meja kamarnya. Ia menemukan sebuah buku diary. Buku diary milik Anne yang tak pernah diketahuinya.
Ia membuka buku diary itu dan terpaku pada satu halaman di buku itu.

***

24 September 1961.
Tuhan, terima kasih buat kehadirannya dalam hidupku. 21 tahun  adalah masa investasi yang paling berharga. Dan 3 tahun terakhir ini adalah 3 tahun yang sangat menyenangkan. Kau membentukku dan membentuknya. Hari ini kami resmi menjadi 1 tim untuk memenangkan pertandingan kehidupan ini. Bless our marriage Lord..
Suatu hari nanti, q tahu akan ada ujian yang berat. Q mempercayainya dan mempercayakanNya kepadaMu. Ketika suatu saat nanti cinta kami diuji untuk menjadi lebih kuat, ijinkan komitmen menolongnya. Sama seperti dia berkomitmen kepadaMu, begitulah komitmennya kepadaku dan pada pernikahan ini.
Tuhan, kami berjanji akan memenangkan pertandingan ini sebagai 1 tim yang solid.
Amin!

***

Tom menutup buku diary itu.
Ia berlutut di samping tempat tidurnya dan berdoa sambil menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan.

***

Kini, pernikahan mereka telah memasuki usia ke-50 tahun.
Anne tidak pernah tahu satu kejadian di sore hari itu. Tom tidak pernah menceritakannya pada Anne. Ia menunjukkan kesetiaannya dengan tidak mengikuti perasaannya. Ya, komitmennya menang!
Bagi Anne, Tom adalah suami yang sangat setia. Dan Tom, ia beruntung memiliki Anne, seorang perempuan hebat dan penolong yang sepadan.

Instagram