Main image
22nd March
2015
written by admin

Hi everyone!
Pernah nggak ketemu sama orang yang ketika ngobrol selalu cerita tentang dirinya, pengalamannya, pemikirannya, prinsipnya, seleranya, pokoknya segala sesuatu tentang dirinya? Well, sebetulnya nggak ada salahnya juga sih. Tapi bakalan bikin bete kalau ujung-ujungnya adalah bragging. Di mana melalui omongannya, dia berusaha terlihat lebih benar dari orang lain, berada lebih tinggi dari orang lain, atau lebih pintar, lebih sukses, lebih hebat, dan lain-lain

Nah, sekarang daripada ngomongin orang lain, lebih baik kita memeriksa diri kita sendiri. Apakah kita adalah salah satu orang yang seperti itu?
Kalau boleh jujur, beberapa kali aku attempted  untuk menjelaskan pengalamanku, diriku, pemikiranku, prinsipku, semuanya tentang “aku” ke orang lain, sekedar untuk memastikan bahwa pandangan orang itu tentang aku sesuai dengan yang kuharapkan. Apalagi kalau aku merasa bahwa orang itu salah memahamiku. Tapi, ada 1 motivasi lagi yang kalau aku gali dalam-dalam, sebenarnya ada dalam diriku, yaitu keinginan untuk dinilai dan dipandang baik, sempurna, tidak bercacat cela, huehehe..
Secara, bisa dibilang aku cukup perfeksionis (ehh.. kumat..-.-“)

Dengan membahas topik ini di sini, aku mengajak kalian untuk kita sama2 intropeksi diri. Akibat dari bragging itu fatal banget. Niat yang awalnya ingin dinilai perfect sama orang lain, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Kita justru dipandang sombong dan itu nggak keren banget.
Belum lagi kalau akibat bragging kita justru menghancurkan hubungan pertemanan kita (siapa sih yang nggak males dan bosen sama orang yang sukanya cerita tentang dirinya sendiri, prinsipnya, dan nggak bisa memahami pemikiran orang lain? Ilfil banget kan…)
Terus, bisa juga, bragging kita merugikan orang lain, ketika orang yang kita buali itu terpesona sama cerita kita dan akhirnya merasa hidupnya nggak sebagus kita, dan dia justru bukannya terinspirasi tapi malah putus asa (di dunia ini orang kan beda-beda, pasti ada orang jenis seperti ini)
Selain itu, kita pastinya jadi nggak punya sahabat yang tulus kalau kita doyan bragging, karena persahabatan lahir dari pengenalan yang dalam satu dengan yang lain. Mereka tahu kejelekan kita, kelemahan kita, ketakutan kita, ketidakmampuan kita, dan mereka menerima kita apa adanya. We’re accepted unconditionally. What’s more satisfying than that? Sedangkan kalau kita sering bragging dan berhasil (maksudnya orang lain melihat kita sesempurna bualan kita), maka ketika suatu hari mereka lihat kekurangan kita, yang ada mereka jadi kecewa sama kita dan…. ilfil.
Kalau mau dipanjangin lagi daftar kerugiannya, kebiasaan bragging membuat kita jadi seperti membohongi diri sendiri dan akhirnya membuat kita nggak nyaman karena kita selalu berusaha tampak sempurna sesesempurna bualan kita. (Capek, bro!)

Terus gimana dong kalau kita memang benar-benar mau sharing pengalaman kita, atau prinsip & pemikiran kita tanpa bragging?
Kalau pengalaman pribadiku, di hati ini seperti ada alarmnya. Waktu aku udah bicara panjang lebar menjurus mau bragging, hatiku jadi nggak tenang. Hatiku seolah-olah bilang, “kata-kata yang itu nggak usah dikeluarkan lah, bagian yang itu nggak usah diceritakan lah, diam-diam aja lah…”
Iya betul, caranya adalah jangan bicara terlalu banyak. Too much talk leads to sin (Proverb 10:19 NLT ). Katakan apa yang penting dan bermanfaat buat orang lain, tidak perlu menceritakan pujian orang lain terhadap diri kita. Cukup kita -orang yang memuji kita, Tuhan, dan keluarga mungkin, dan pasangan hidup kita tentunya- yang tahu. Lebih banyak bertanya tentang pengalaman orang lain daripada menceritakan diri kita sendiri.

Aku banyak belajar dari persahabatanku dengan sahabat-sahabatku saat ini (juga sama pacarku). Kita nggak pernah dan nggak perlu tampak sempurna di mata satu dengan yang lain. Kita nggak perlu tampak lebih cantik atau lebih pintar atau lebih sukses daripada yang lain. Kita nggak perlu tampak lebih “tinggi”. Kita nggak perlu juga tampak lebih kaya. Kita cuma perlu jadi apa adanya, bicara apa adanya, berlaku apa adanya, dan kita tetep bisa saling menerima segala kekurangan satu dengan yang lain dengan kasih yang tulus. Kita bisa mengutarakan apapun tanpa rasa takut dinilai jelek atau dihakimi. Kita bisa bersikap nggak anggun (sekali-sekali lah ya..) tanpa takut dipermalukan. Kita bisa memahami satu sama lain dengan segala keaslian sifat kita.

What a wonderful feeling to be loved unconditionally!

Akhir kata, “Let another praise you, and not your own mouth; someone else, and not your own lips”-Proverb 27:2 NIV

Be double blessed everyone!

Leave a Reply

Instagram