Main image
13th January
2011
written by admin

Beberapa hari yang lalu q baru aja selesai baca buku berjudul “Ketika Manusia Dianggap besar dan Allah Dianggap Kecil” yang ditulis oleh Edward T. Welch.
Sebenernya bukan karena keinginan sendiri sih untuk baca buku ini.
Ini adalah pe-er liburan dari kepanitiaan di kampus.

Meskipun q nggak terlalu suka gaya penulisannya yang agak membosankan (yah, sisi minus yang banyak dijumpai dari buku terjemahan mungkin.. ^^), tapi isi buku ini bagus juga n menyadarkan q. Di bawah ini q mau share sedikit tentang apa yang q dapatkan dari buku ini.

Well, secara sadar atau nggak sadar, kita seringkali mengalami ” takut akan manusia”.
Kita sering menilai diri kita berdasarkan penilaian orang lain terhadap diri kita. Juga, kita sering melakukan sesuatu dengan harapan mendapatkan suatu penilaian tertentu dari orang lain.
Hal ini berlaku bukan hanya dalam hal negatif aja, tapi bahkan dalam hal positif.  Iri hati, takut tersaingi, minder, berbohong, itu udah contoh yang jelas untuk menggambarkan takut akan manusia. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa usaha mencapai keberhasilan tertentu supaya mendapat image yang baik, pujian, dan apresiasi dari orang lain juga merupakan bentuk dari takut akan manusia?

Mungkin hal ini kelihatan baik cz kita semua jadi berlomba-lomba untuk menjadi orang baik. Tapi, lama2 orientasi dan motivasi kita yang menyimpang. Bukan lagi pada Tuhan, tapi pada manusia.
Kita jadi terus memikirkan apa pikiran orang lain tentang kita.
Padahal kita sebenarnya nggak perlu memenuhi standar penilaian orang lain karena penilaian Allah terhadap diri kita didasarkan pada karya Kristus yang sudah genap.
Seperti quotes yang mungkin udah akrab di telinga kita: What other people think about you is none of your business!

Nah, bukan berarti terus hidup kita jadi asal2an. Tapi justru karena kita punya nilai yang begitu tinggi dan berharga di mata Tuhan, kita harus terus melakukan yang terbaik! Bukan untuk manusia sekali lagi, tapi untuk Tuhan.
Kalau kita udah punya paradigma yang benar tentang hal ini, kita tidak akan mudah “disetir” oleh orang lain beserta pendapatnya dan bisa menjadi diri sendiri sesuai dengan panggilan Tuhan buat hidup kita.

Q bersyukur dikasih pe-er baca buku ini. Selain karena liburan ini lagi nggak ada buku di rumah untuk dibaca, buku ini menolongku pada waktu yang tepat. Hehe..
Thanks God
..^^
Q sering diajar Tuhan lewat sebuah buku, tapi tetap yang terutama adalah dari buku hidup yang nggak pernah termakan jaman.. Bible.. :)

Be blessed, guys 🙂

Leave a Reply

Instagram